Oli untuk Mesin Biogas dengan Kandungan Sulfur Tinggi

Mesin gas yang menggunakan biogas menghadapi tantangan pelumasan yang berbeda dibandingkan mesin yang menggunakan natural gas dengan kualitas lebih stabil. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah kandungan sulfur dan hidrogen sulfida (H₂S) dalam bahan bakar.

Ketika kandungan sulfur cukup tinggi, kondisi oli dapat menjadi lebih berat karena produk pembakaran dapat meningkatkan pembentukan senyawa asam. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mempercepat korosi dan keausan apabila sistem pelumasan tidak ditangani dengan tepat. Caltex juga menjelaskan bahwa biogas, landfill gas, dan digester gas dapat memiliki karakteristik kontaminan yang lebih agresif sehingga membutuhkan formulasi oli yang sesuai.

Mengapa Sulfur Menjadi Masalah pada Gas Engine?

Gas engine memang tidak menghasilkan soot seperti mesin diesel, tetapi bukan berarti pelumasnya bekerja dalam kondisi ringan. Pembakaran gas dapat menghasilkan kondisi yang mendorong oksidasi dan nitrasi oli, sementara kandungan sulfur atau H₂S dari bahan bakar dapat meningkatkan tantangan terhadap acid control dan perlindungan komponen.

Pada biogas dengan kandungan sulfur tinggi, senyawa sulfur dari bahan bakar dapat berkontribusi terhadap pembentukan asam di dalam oli. Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat mempercepat korosi pada komponen engine.

Karena itu, memilih oli untuk genset biogas tidak cukup hanya dengan melihat SAE 40. Karakteristik bahan bakar dan kebutuhan engine harus menjadi pertimbangan utama.

Dampak Kandungan Sulfur Tinggi terhadap Oli Mesin

Penggunaan biogas dengan kualitas yang berubah-ubah dapat mempercepat degradasi oli. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian adalah:

1. Acid formation

Produk pembakaran yang mengandung sulfur dapat meningkatkan pembentukan senyawa asam di dalam sistem pelumasan. Kondisi ini membuat kemampuan oli dalam mengendalikan keasaman menjadi penting.

2. Korosi dan keausan

Lingkungan yang lebih asam dapat meningkatkan risiko korosi pada komponen engine. Seiring waktu, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap keausan apabila tidak ditangani melalui pemilihan oli dan program maintenance yang tepat.

3. Deposit

Gas engine tetap membutuhkan kontrol deposit pada area seperti piston, valve, dan spark plug. Formulasi oli harus mampu menjaga kebersihan komponen tanpa menghasilkan tingkat ash yang tidak sesuai dengan kebutuhan engine.

4. Interval penggantian oli lebih sulit diprediksi

Kualitas biogas dapat berubah tergantung sumber dan proses pengolahannya. Akibatnya, kondisi oli juga dapat berubah lebih cepat sehingga interval drain sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan angka jam operasi.

Oli untuk Biogas Harus Memiliki Kemampuan Acid Control

Untuk aplikasi biogas, salah satu aspek penting adalah kemampuan pelumas menghadapi pembentukan asam dan kontaminasi.

Selain memilih produk yang sesuai, oil analysis dapat membantu melihat kondisi aktual oli selama operasi. Parameter seperti TAN, TBN, viskositas, oksidasi, nitrasi, dan kontaminan dapat digunakan untuk membantu menentukan apakah oli masih layak digunakan atau sudah mendekati batas penggantian.

Pendekatan ini lebih akurat dibandingkan menetapkan interval penggantian secara kaku untuk semua engine, karena kualitas gas dan kondisi operasi setiap fasilitas bisa berbeda.

HDAX 6500 LFG untuk Biogas dan Gas yang Korosif

Dalam lini produk Caltex, HDAX 6500 LFG Gas Engine Oil SAE 40 secara khusus dikembangkan untuk aplikasi gas engine yang menggunakan landfill gas, biogas, digester gas, dan sour gas. Produk ini memiliki karakteristik low ash dengan teknologi detergent/dispersant yang ditujukan untuk membantu menghadapi kondisi gas yang agresif.

Caltex juga mencatat kemampuan produk tersebut dalam acid control, wear protection, dan deposit control pada kondisi kualitas biogas yang berubah-ubah dan korosif.

Dalam salah satu studi kasus Caltex pada Thai Biogas Energy, HDAX 6500 LFG digunakan pada engine INNIO Jenbacher Type 420 yang beroperasi menggunakan biogas. Perusahaan tersebut melaporkan peningkatan interval drain dari sekitar 500 jam menjadi 1.250 jam setelah penerapan HDAX 6500 LFG, disertai penurunan biaya lubricant. Hasil tersebut merupakan studi kasus pada aplikasi tertentu dan bukan jaminan bahwa interval yang sama berlaku untuk semua engine.

Jangan Menganggap Semua Oli Low Ash Sama

Istilah low ash bukan berarti semua produk low ash memiliki aplikasi yang identik.

Untuk natural gas engine tertentu, Caltex Indonesia saat ini mencantumkan HDAX 9200 dan HDAX 5200 sebagai natural gas engine oils. Sementara itu, HDAX 6500 LFG memiliki target aplikasi yang lebih spesifik pada landfill gas, biogas, digester gas, dan sour gas dalam materi produk Caltex.

Karena itu, pemilihan produk sebaiknya dilakukan berdasarkan:

  • Model dan manufacturer engine
  • Jenis serta kualitas biogas
  • Kandungan sulfur dan H₂S
  • Spesifikasi lubricant dari OEM
  • Kondisi operasi engine
  • Hasil oil analysis

Dengan data tersebut, perusahaan dapat menentukan apakah membutuhkan produk gas engine oil untuk natural gas biasa atau formulasi yang lebih spesifik untuk aplikasi biogas.

Pemilihan Oli Genset Biogas Perlu Pendekatan Teknis

Semakin tinggi kandungan sulfur atau semakin agresif karakteristik gas, semakin penting memastikan bahwa formulasi oli sesuai dengan kebutuhan engine.

HDAX 6500 LFG merupakan salah satu contoh pelumas yang dikembangkan untuk aplikasi gas yang lebih menantang, tetapi keputusan penggunaannya tetap harus mengacu pada rekomendasi OEM dan kondisi aktual engine.

Untuk kebutuhan pengadaan pelumas Caltex bagi genset biogas dan gas engine industri, PT Lancar Sakti dapat membantu menyediakan produk sesuai kebutuhan aplikasi perusahaan.

Lihat Katalog Produk PT Lancar Sakti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *